Diam menyendiri merasakan dinginnya pagi hari, tak mampu memandang dan tak mampu menceritakan indahnya suasana saat ini. Bukan makanan enak dan bukan juga pakaian bagus yang aku inginkan, bersama baju tua ini aku ingin tetap bersyukur dengan apa yang aku dapatkan. Andaikan aku dapat melihat masa depan yang semakin hebat, pastilah aku tidak dapat menceritakan apa yang aku lihat, anak cucuku telah mengetahuinya sendiri dengan mata terbukanya. Hari - hariku terus menanti, tenggelam di masa lalu tidak akan membuatku diingat juga, tongkat rapuh masih menuntunku, mengitari jalan penuh kegelapan hati.
Aku ingin tertawa dan bercanda seperti dulu, tersenyum bersama kenangan yang tak terlupakan. Waktu mengkandaskan semua mimpiku, tak tersisa harap namun aku tetap menatap. Di ujung jalan, cahaya tidak akan mungkin aku lihat, aku sampai lupa bagaimana warna kulit tuaku ini. Jari jemari sudah tidak kuat menghapus air mata, mengisahkan sebuah tragedi yang terkandaskan. Sampai mati aku tidak ingin merepotkan orang yang aku sayangi, mendengar mereka tertawa saja sudah membuatku bahagia.
Sekarang aku mengerti, betapa berharganya hidup ini, tak akan aku sia - siakan satu detik penuh luapan, akan aku coba mendekatkan diri kepada Tuhan. Dan bila memang ini saatnya aku akan pergi, aku mohon jangan pernah menangis di dekat tubuhku, aku mengerti arti dari kepergianku, dan semuanya harus mengerti tentang takdir waktu. Badan ini sudak tidak kuat untuk berlari, bunyi tulang rapuh terdengar seperti biola mimpi, semakin tergores akan semakin bertahan. Aku berdoa di kala hujan deras mengguyur gubug tuaku, Selamatkan keluargaku Ya Allah, aku mencintai mereka melebihi diriku sendiri. Aku mohon Tuhan, pertemukan aku dengan mereka suatu saat nanti, agar aku dapat melihat wajah wajah tampan anak cucuku ini.
"Lalu, daun hijau pun pasti berguguran, seandainya itu aku, aku ingin kuat menghadapinya, bersama dingin malam aku akan terpaku dalam sunyi, merintih dan berdoa melupakan kesakitan dunia. Tatapan mataku semakin dalam dan menghitam, sampai pepohonan tak dapat memahami pikiranku. Genggamlah tanganku kau orang yang dapat mengerti ceritaku, aku tak akan lelah mengikuti mimpimu, teruslah belajar dan berdoa, dunia ini terlalu luas untuk kau lalui sendiri."
"Aku Ingin melihat orang - orang di sekitarku, untuk berbicara bersama tentang indahnya dunia."
Aku ingin tertawa dan bercanda seperti dulu, tersenyum bersama kenangan yang tak terlupakan. Waktu mengkandaskan semua mimpiku, tak tersisa harap namun aku tetap menatap. Di ujung jalan, cahaya tidak akan mungkin aku lihat, aku sampai lupa bagaimana warna kulit tuaku ini. Jari jemari sudah tidak kuat menghapus air mata, mengisahkan sebuah tragedi yang terkandaskan. Sampai mati aku tidak ingin merepotkan orang yang aku sayangi, mendengar mereka tertawa saja sudah membuatku bahagia.
Sekarang aku mengerti, betapa berharganya hidup ini, tak akan aku sia - siakan satu detik penuh luapan, akan aku coba mendekatkan diri kepada Tuhan. Dan bila memang ini saatnya aku akan pergi, aku mohon jangan pernah menangis di dekat tubuhku, aku mengerti arti dari kepergianku, dan semuanya harus mengerti tentang takdir waktu. Badan ini sudak tidak kuat untuk berlari, bunyi tulang rapuh terdengar seperti biola mimpi, semakin tergores akan semakin bertahan. Aku berdoa di kala hujan deras mengguyur gubug tuaku, Selamatkan keluargaku Ya Allah, aku mencintai mereka melebihi diriku sendiri. Aku mohon Tuhan, pertemukan aku dengan mereka suatu saat nanti, agar aku dapat melihat wajah wajah tampan anak cucuku ini.
"Lalu, daun hijau pun pasti berguguran, seandainya itu aku, aku ingin kuat menghadapinya, bersama dingin malam aku akan terpaku dalam sunyi, merintih dan berdoa melupakan kesakitan dunia. Tatapan mataku semakin dalam dan menghitam, sampai pepohonan tak dapat memahami pikiranku. Genggamlah tanganku kau orang yang dapat mengerti ceritaku, aku tak akan lelah mengikuti mimpimu, teruslah belajar dan berdoa, dunia ini terlalu luas untuk kau lalui sendiri."
"Aku Ingin melihat orang - orang di sekitarku, untuk berbicara bersama tentang indahnya dunia."
