Antara
kau dan Selembar pertanyaanku
Di manakah kau sekarang sahabatku, gelap malam benar telah menghalangi
pandanganku kepadamu, dan aku harap malam tak pernah berakhir,agar tak akan
pernah ada pandangan dosa dalam persahabatan kita. Bunyi suara ketukan pintu di
depan rumahmu apa kau masih mengingatnya, aku selalu memanggil namamu dengan
lembut dan kau selalu membuka pintu harapan untuk menolongku. Tetapi suatu
ketika aku memanggilmu untuk yang ke sekian kalinya, kenapa kau tak menjawabnya
lagi, kemanakah kau saat itu sahabat, apakah kau benar benar pergi jauh dari
tempatmu dulu?. Kapankah kau mau menemuiku lagi, aku takut jika suatu hari kau
ganti memanggilku tapi aku tak pernah bisa menjawabnya selama-lamanya. Semoga
hatimu menjawab panggilan yang ku teriakkan dari dalam hatiku, karena aku ingin
selalu mengingatkanmu betapa menipunya kenikmatan dunia ini.
Sahabat yang kucintai, sudahkah kau temukan seorang teman yang kau
cintai melebihi sahabatmu di masa yang lalu. Apakah kekasih yang selalu kau
sayangi itu lebih baik daripada teman kecilmu??. Renungkanlah dengan hatimu
semua kegembiraan yang kau dapatkan di masa mudamu sekarang, aku punya beberapa
pertanyaan untukmu :
1.Sejak kapan pujaan hatimu mau menyatakan cintanya kepadamu, kau sudah
lama mengenalnya tapi kenapa baru saat kau menjadi lebih indah dia baru mau
menyatakan cintanya??
2.Seandainya kau sangat lebih buruk dari dirimu yang sekarang ini, apakah
akan banyak orang yang mulai mendekatimu seperti sekarang ini??
3.Apakah pernah teman curhatmu,teman smsmu,teman yang selelu mengajakmu
pergi bermain,teman yang sering mengajakmu mengobrol di kelas itu mengajakmu
untuk pergi ke masjid atau untuk pergi mengaji??
Lalu putarlah ingatanmu lagi, kami sahabat masa
kecilmu selalu senang dengan segala keadaanmu, kami berteman denganmu sejak kau
belum memiliki rambut sampai rambutmu seindah ini, apakah kau pernah
mendengarkan kami menyatakan cinta kepadamu?, tidak akan pernah. Sahabat sejati
mencintai bukan dengan ucapan belaka, tapi dengan saling menjaga,menghormati dan
saling mengingatkan untuk berbuat baik dan beribadah. Coba hitunglah sekarang
dengan jarimu, berapa jumlah temanmu yang seperti itu, bukankah kebanyakan dari
mereka hanya mengajakmu ngobrol,bermain dan makan makan, apakah itu pertemanan
yang kau impikan.
Lalu
apakah kamu tidak merindukan seorang pahlawan kecil yang tidak pernah bosan
memanggilmu untuk mengajakmu ke masjid, dalam kesenyapan pagi dia selalu ingin
mengajakmu, dalam kegelapan malam pun tak lupa mengingatkanmu. Dia akan selalu
tersenyum walaupun kadang kau menolaknya. Semua kenangan itu harusnya akan
selalu kau ingat, kita semua pernah terjatuh, kita semua pernah berada di bawah
orang lain, tapi kita tidak pernah saling menghina. Apakah kau sadar, kita
bukan sekedar teman kecil ataupun sahabat, kita ini adalah saudara yang saling
membutuhkan. Tak peduli seperti apa dirimu, tak peduli seperti apa masa
depanmu, kami akan berusaha ada di dalam hatimu. Dan jangan lupa, di tempatku
ini akan ada banyak senyum ceria para pejuang di masa depan nanti, dan aku dan
kamu adalah guru bagi pejuang itu. Aku menunggumu di bawah bendera Islam untuk
berjuang menghancurkan segala keburukan.
“SELAMAT
ULANG TAHUN TEMANKU”, apa mungkin kalimat ini bisa kuucapkan langsung di
depanmu. Bukankah kita biasa berpesta ala rakyat biasa setiap merayakan ulang
tahun, mungkinkah kita mengulangnya lagi tahun depan kawan?, alangkah indahnya
waktu itu.
Di masa
lalu, seberapa banyak hal yang kau ingat, banyak tawa dan sedih di setiap
perjalanan kita. Kita adalah sahabat yang saling menanti. Masihkah kau ingat
saat dulu aku menunggumu pulang mengaji, saat itu aku belum bisa naik sepeda
dan berjalan sendiri menunggumu di perempatan masjid, tak ku sangka ayahmu
sudah menjemputmu dahulu dan kau pasti tau kan kelanjutannya??
Temanku,
sudah sadarkah engkau selama ini, bahwa adikku sangat menyayangimu, tak ada
teman adikku yang paling aku cemburui kecuali engkau. Dia selalu ingin mengajakmu
kemanapun dia pergi, dan kau selalu ada untuknya di saat ku tak ada. Dan dulu,
apa kau ingat saat kita lomba panjat pisang di belakang rumahku, alangkah aku
ingin mengulang saat adikku naik ke puncak pisang dan akhirnya pohonnya
tumbang, betapa kebingungan dirinya saat itu. Mungkinkah kita bisa
mengulangnya. Waktu akan menjawablah. Kita harus bersabar dengan senyum rindu
sahabat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar