Angin di musim hujan begitu terasa dingin di kulitku, selalu menusuk seluruh tulangku. Aku selalu duduk di atas tempat tidurku, sambil memikirkan semua kesedihan yang terus menghantui semua orang. Apa mungkin Tuhan sudah benar membenci kita karena semua perbuatan hina yang kita lakukan. Selalu saja kebingungan ingin merasuki kepalaku.
Aku sadar diriku tidak akan bisa mengubah dunia ini. Mungkin aku ini 1 dari seratus juta orang yang sama sama mempunyai mimpi untuk mengubah dunia ini. Aku sampai tertawa saat melihat wajahku di kaca. Yang aku lihat hanya wajahku yang tak akan pernah indah dilihat orang lain. Apa memang aku salah dilahirkan di dunia ini, untuk apa juga aku hidup. Semua pertanyaan itu selalu mendengung di otak ku.
Cahaya keadilan yang kucari selama ini tidak pernah terlihat di mataku. Aku merasa tidak pernah ada perlakuan sama kepada diriku. Apa mungkin menghargai orang lain adalah hal yang harus aku lakukan. Misteri keadilan yang membuat hatiku bergetar jika mendengarnya. Seperti halnya api kebencian yang selalu membuat takut para masyarakat cinta damai, semua perasaan bingung ini seakan ingin memecah otak ku. Tanganku terasa sakit jika ingin menulis sebuah karya yang indah dengan darah yang aku gunakan sebagai tintanya.
Arti hidup yang sesungguhnya tidak pernah aku bayangkan. Para pembunuh seakan menjadikan korbannya sebagai boneka yang sudah tidak berguna. Para keparat korupsi sama saja hinanya dengan perempuan yang berbuat zina di depan anak anak yang tidak tau apa apa. Memang begitulah tragedi kebodohan dan kebusukan yang ada di pikiran Manusia.
Aku mulai berjalan menuju ke pintu rumahku setelah lama hatiku terasa kosong dalam kamarku. Kubuka lebar - lebar cahaya penantian yang ada di luar sana. Aku terkejut kagum saat melihat seorang anak membantu ibunya membawa kayu kayu bakar yang berat. Keadilan apa yang akan menuntun anak itu menuju dunia yang penuh kebusukan ini. Anak itu bisa saja menjadi ujung tombak yang tajam, dia bisa melukai dan dia juga bisa melindungi. Tekad yang membuat seseorang bisa seperti itu hanya rasa cintanya kepada orang yang benar - benar ia sayangi. Lembaran hidup seperti halnya kertas putih, jika perbuatan kita baik, kita juga akan seperti menulis kata - kata yang terlihat rapi di mata orang lain. Dan juga kebalikannya, jika perbuatan kita busuk, sama halnya kita mencoret kertas itu dengan garis - garis yang tidak beraturan.
Betapa sedihnya para manusia yang selalu merugi dalam hidupnya. Pemimpin negara seperti tidak tau keadilan. Mereka seperti bermain sinetron, jika dibayar dia juga akan mau ber akting. Keparat itu seperti hanya ingin kekuasaan yang tidak berguna dalam hidupnya. Dia hanya dekat pada Rakyatnya saat dia butuh kepercayaan mereka. Dan setelah dia memimpin, semua kepercayaan itu tidak dia hiraukan. Apa kita pantas menyebut dia Manusia, sedangkan saat dia kaya tidak pernah tidur sama rendah dengan Rakyatnya.
Aku ingin keadilan itu hidup. Aku ingin tidak ada lagi kebencian. Semua rasa sakit ini seakan ingin melubangi jantungku. Mungkin aku tidak punya apa - apa dalam hidupku. Tapi aku yakin suatu saat semua orang akan sejajar bersama dengan rasa bangga di hatinya karena perbuatan baik yang dia lakukan.
Dan untuk kalian para pengecut dan pendendam. Aku ingin tulang kalian diratakan suatu hari nanti, dengan perasaan menyesal di hati kalian. Kalian tidak pernah menciptakan keadilan dan terus saja berbuat kejahatan. Aku rela mempersembahkan satu detak jantungku kepada orang orang yang menjadi korban kejahatan, agar bisa melihat orang yang ia cintai walau hanya 1 detik. Dan inilah tekad ku. Aku akan terus hidup, dan hidupku untuk mencari keadilan, dan keadilan akan membawaku kepada Tuhanku. Walau dunia ini penuh kebohongan, jangan lah dirimu membohongi dunia. Karena kehidupan abadi akan ada di Surga nanti.
KEADILAN TIDAK AKAN PERNAH RUNTUH DARI DUNIA.
Aku sadar diriku tidak akan bisa mengubah dunia ini. Mungkin aku ini 1 dari seratus juta orang yang sama sama mempunyai mimpi untuk mengubah dunia ini. Aku sampai tertawa saat melihat wajahku di kaca. Yang aku lihat hanya wajahku yang tak akan pernah indah dilihat orang lain. Apa memang aku salah dilahirkan di dunia ini, untuk apa juga aku hidup. Semua pertanyaan itu selalu mendengung di otak ku.
Cahaya keadilan yang kucari selama ini tidak pernah terlihat di mataku. Aku merasa tidak pernah ada perlakuan sama kepada diriku. Apa mungkin menghargai orang lain adalah hal yang harus aku lakukan. Misteri keadilan yang membuat hatiku bergetar jika mendengarnya. Seperti halnya api kebencian yang selalu membuat takut para masyarakat cinta damai, semua perasaan bingung ini seakan ingin memecah otak ku. Tanganku terasa sakit jika ingin menulis sebuah karya yang indah dengan darah yang aku gunakan sebagai tintanya.
Arti hidup yang sesungguhnya tidak pernah aku bayangkan. Para pembunuh seakan menjadikan korbannya sebagai boneka yang sudah tidak berguna. Para keparat korupsi sama saja hinanya dengan perempuan yang berbuat zina di depan anak anak yang tidak tau apa apa. Memang begitulah tragedi kebodohan dan kebusukan yang ada di pikiran Manusia.
Aku mulai berjalan menuju ke pintu rumahku setelah lama hatiku terasa kosong dalam kamarku. Kubuka lebar - lebar cahaya penantian yang ada di luar sana. Aku terkejut kagum saat melihat seorang anak membantu ibunya membawa kayu kayu bakar yang berat. Keadilan apa yang akan menuntun anak itu menuju dunia yang penuh kebusukan ini. Anak itu bisa saja menjadi ujung tombak yang tajam, dia bisa melukai dan dia juga bisa melindungi. Tekad yang membuat seseorang bisa seperti itu hanya rasa cintanya kepada orang yang benar - benar ia sayangi. Lembaran hidup seperti halnya kertas putih, jika perbuatan kita baik, kita juga akan seperti menulis kata - kata yang terlihat rapi di mata orang lain. Dan juga kebalikannya, jika perbuatan kita busuk, sama halnya kita mencoret kertas itu dengan garis - garis yang tidak beraturan.
Betapa sedihnya para manusia yang selalu merugi dalam hidupnya. Pemimpin negara seperti tidak tau keadilan. Mereka seperti bermain sinetron, jika dibayar dia juga akan mau ber akting. Keparat itu seperti hanya ingin kekuasaan yang tidak berguna dalam hidupnya. Dia hanya dekat pada Rakyatnya saat dia butuh kepercayaan mereka. Dan setelah dia memimpin, semua kepercayaan itu tidak dia hiraukan. Apa kita pantas menyebut dia Manusia, sedangkan saat dia kaya tidak pernah tidur sama rendah dengan Rakyatnya.
Aku ingin keadilan itu hidup. Aku ingin tidak ada lagi kebencian. Semua rasa sakit ini seakan ingin melubangi jantungku. Mungkin aku tidak punya apa - apa dalam hidupku. Tapi aku yakin suatu saat semua orang akan sejajar bersama dengan rasa bangga di hatinya karena perbuatan baik yang dia lakukan.
Dan untuk kalian para pengecut dan pendendam. Aku ingin tulang kalian diratakan suatu hari nanti, dengan perasaan menyesal di hati kalian. Kalian tidak pernah menciptakan keadilan dan terus saja berbuat kejahatan. Aku rela mempersembahkan satu detak jantungku kepada orang orang yang menjadi korban kejahatan, agar bisa melihat orang yang ia cintai walau hanya 1 detik. Dan inilah tekad ku. Aku akan terus hidup, dan hidupku untuk mencari keadilan, dan keadilan akan membawaku kepada Tuhanku. Walau dunia ini penuh kebohongan, jangan lah dirimu membohongi dunia. Karena kehidupan abadi akan ada di Surga nanti.
KEADILAN TIDAK AKAN PERNAH RUNTUH DARI DUNIA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar