Sabtu, 03 Desember 2011

MASA DEPAN KESEDIHAN


    Pada tahun 2023 akan muncul seorang Anak laki laki yang mempunyai pandangan tentang kehancuran masa depan. Hari dimana tidak ada kebebasan, hari dimana tanpa hukum dan hari itu adalah hari yang kelam untuk Pemerintah Dunia. Tapi saat hari yang gelap itu datang, akan ada seseorang yang membawa sepucuk cahaya perdamaian. Lalu ia akan berdiri di antara mayat mayat yang bergelimpangan, dan dia akan berkata "Kegelapan seperti halnya Kecerahan, Keadilan sama halnya dengan Kejahatan. Suatu yang berawal harur segera diakhiri. Dunia ini sudah tidak ada lagi, maka akan ku akhiri semuanya."

      Setelah perkataan itu, semua orang mengangkat senjata mereka, dan mereka membunuh semua orang yang di bencinya, sambil mengangkat kepala korbannya dan berkat " Inilah kebencian ku, di masa lalu dia meremehkan ku, menghinaku dan menganggapku sebagai peliharaan mereka. Sekarang kuanggap ini lunas dengan bayaran 2 kelopak matamu dan segenggam jantung mu". Para Pembunuh itu sebenarnya mengangkat kepala seorang Pemimpin Negara yang tidak pernah memberikan keadilan kepada mereka. Dan para Manusia yang tidak bisa membunuh terus saja berlari dengan membawa batu nisan Keluarga mereka, sambil menangis dan mengeluarkan darah dari mulutnya karena rasa takut mereka akan mati. Anak anak kecil pada saat itu hanya terdiam, sambil melihat perbuatan jahanam itu. Lalu mereka mengangkat palu yang mereka gunakan untuk mengkikis tiang kesejahteraan di rumah mereka dan berkata "Untuk apa aku dilahirkan, sedangkan nanti aku akan dibunuh. Untuk apa aku tinggal di rumah ini, sedangkan rumah ini nantinya akan menguburku. Lihatlah dunia, mimpi buruk ini akan segera berakhir, dengan kepala tegak untuk para tahanan kebebasan".

    Darah saat itu menjadi penghilang haus yang terakhir, tulang tulang mereka gunakan untuk membangun rumah kecil sebagai tempat tinggal. Kesedihan yang dialami sudah tidak bisa dicegah lagi, air mata bercampur darah terus mengalir. Keadilan dan Kejahatan itu sama saja. Sepucuk cahaya itu hanya sekejap menerangi kegelapan Dunia. Tapi saat semua suara telah menghilang, akan muncul seorang wanita yang sangat cantik, dia adalah anak yang terakhir dilahirkan di dunia. Orang tuanya saat itu bersembunyi di sebuah sumur, lalu ayahnya terus melindungi anak itu dengan jantung yang tidak bisa berdetak lagi. Anak perempuan itu hanya bisa menangis di balik mata indahnya yang bersinar. Kemudian matahari mulai muncul dari balik sumur itu. Cahaya terakhir yang membawa semua impian manusia. Perempuan itu berkata "Cahaya ini kugunakan untuk menerangi jalan kalian, semua senyum harapan akan kembali lagi, dan hari ini kegelapan akan musnah". Semua wajah berseri seri terus menerangi dunia. Para pembunuh meletakkan semua senjatanya dan mulai menaruh kepala yang dia bawa tadi. Tangisan darah itu mulai berhenti. Dan akhirnya akan hanya ada kecerahan di Bumi ini.

    Namun, Anak laki laki yang membawa sepucuk cahaya tadi mengatakan bahwa anak perempuan itu adalah seorang pendusta dan munafik. Dia akhirnya menusuk perempuan itu dengan trisula yang telah diasahnya. Para orang kejam itu juga ikut melakukan hal tersebut dengan senjata mereka. Sebelum mati perempuan itu berkata "Kematian akan datang kepada kalian, tanah ini akan menelan semua yang ada diatasnya, matahari akan diturunkan di atas kepala kalian. Rasakanlah manusia, kalian yang tidak pernah menyembah Tuhan akan mengalami mimpi terburuk yang belum pernah kalian alami, dan hanya orang beriman yang bisa bahagia selamanya. Beberapa detik kemudian, tanah mulai retak, gunung mengeluarkan semua isinya, lautan seakan ingin mengubur semuanya. Para manusia berlari ketakutan, dengan rasa kemarahan mereka membunuh keluarganya sendiri. Agar mereka selamat dari kehancuran Dunia saat itu. Air mata terus menggenangi telapak kaki. Darah pun mengubur semua harapan manusia. Dan tanah juga menenggelamkan jiwanya. Namun, akan ada umat manusia yang berdiri tegak. Yaitu Umat yang percaya akan kekuasaan Tuhannya. Lalu Dunia beserta alam semesta akan hancur. Dengan menyisakan penyesalan dan kesedihan.


Oleh : Muhammad Uki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

comment