Kamis, 29 Desember 2011

LAST STAND

   Serangan tanpa henti yang diluncurkan musuh menandakan awal perubahan yang tidak meyakinkan, Pasukan tanpa takut mati terus maju membawa semangat pertempuran demi membawa nama baik keluarganya. Pasukan bertahan masih berdiri tegak sama tinggi menerima serangan para pembunuh yang tanpa rasa kasihan. Tidak ada yang berfikir tentang pasukan yang terluka, setiap ada yang kalah langsung digantikan dengan yang baru. Suara tembakkan terus memenuhi babak penentuan tanpa batas yang tidak terikat oleh takdir. Semua yang terlibat tanpa berkedip ikut menyaksikan keburukan manusia yang saling menghancurkan demi mendapatkan nama tertinggi itu.

   Bagai Anjing yang tidak melepas mangsanya, manusia terus mengejar, mengejar setiap detak jantung yang terdengar. Satu persatu bola mata berjatuhan, darah yang keluar dari dalam matanya seakan membanjiri tanda kekuasaan pemenang. Saksi bisu yang tak dapat merasakan sakitnya kehilangan, senjata terus menyerbu tanpa arah dan tujuan. Semakin lama rasa takut itu muncul, maka semakin kehilangan arah para mata senjata itu. Kendaraan besi yang bertempur tanpa lelah tak akan hancur disapu hantaman anak panah, puluhan pasukan kuda tanpa rasa menyerah tak akan hancur oleh ratusan anak panah yang diluncurkan bersamaan. Tekad hidup hanyalah sedikit pilihan bagi mereka yang tidak takut akan kematian, terus melangkah dengan kaki - kaki rapuhnya beserta segenggam jiwa yang merasuki luka terdalam Manusia.

   Ranjau dosa yang tertanam sejak dulu, tanpa sengaja diinjak tak akan menghancurkan segalanya. Anak perempuan yang tak tau arti pertempuran, terus saja menyapu sisa - sisa tulang Ibunya. Perlindungan yang tidak akan tertembus saat pasukan bertahan menggunakan keyakinannya untuk melindungi harga diri tertingi bangsa. Penyerang tanpa dosa akan terus bersuara sampai Kata hati mereka berhenti tertawa. Air, darat maupun udara terus menyerang, seperti kiamat kecil yang terjadi dalam kehinaan makhluk Tuhan.

   Tembakan Api dibalik Perisai Keyakinan yang akan memenangkan segalanya. Dengan duri di depan penghalang penyerangan, tak akan mampu takdir menginjakkan kaki diatasnya. Penyerang yang semakin bingung menggunakan seribu cara dari 10 kesempatan untuk memutar keadaan, dengan berdoa mereka percaya akan bantuan pasukan Tuhan. Yang akan membawa sebuah kemenangan manis untuk semua pejuang.

   Tombak pun akan menghujani seluruh benteng pertahanan, pertahanan yang akan hancur dengan keyakinan yang tanpa dilandasi Doa. Tuhan mengubah takdir Manusia dengan mudah, tak ada yang menang namun ada yang kalah. Pertahanan yang rapuh semakin menyerah pada keyakinannya sendiri. Tanpa rasa kesombongan mereka memohon ampun kepada Tuhannya. Perdamaian yang diperjuangkan penyerang dengan Doa dan usaha, lebih kuat daripada tekad tanpa Tuhan. Walaupun tak ada yang menang namun tujuan akhir penyadaran akhirnya terpenuhi. Lambang suci perdamaian berkibar di atas Rantai penuh Ranjau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

comment