Sabtu, 21 Januari 2012

Luapan Tak Berguna

    Berdiam diri di atas keheningan malam terkadang menghanyutkan, seperti beban yang mulai menghilang dari pikiran kita. Sayatan waktu begitu kejam, merasa diri kita yang terkuat namun tak bisa mengendalikan waktu. Perpecahan hati membuat bintang terindah seakan kehilangan cahayanya, bersama bulan mereka akan saling meludahi. Api amarah pun sangat mudah dikobarkan, nyawa menghilang begitu menyenangkan, kebencian sesaat begitu tidak berguna. Saat kita bersulang, aku berfikir kalau kita saudara, tapi apa yang membuat kita terpisah teman ?. Lubang di hatimu itukah yang membutakan jalanmu, apa kau salah pilih kepercayaan. Aku begitu ingin mengajakmu mengikuti agamaku, pelampiasan yang berakhir penyesalan akan menghilang dari hidupmu. Dan bersama kita akan mampu meluruskan jalan yang tak tentu arah.

  Kompas hati akan menuntunmu bersama keadilan, menuju sebuah titik puncak yang begitu menakjubkan. Bagaikan membelah keheningan, kita akan mampu saling menjaga saat kita bersatu. Luapkan emosimu, namun jangan pernah kau ikutkan setan dalam perkataan hatimu. Ini suatu kebebasan untuk manusia, setan keparat akan kebingungan, bingung melihat aksi manusia yang semakin menggetarkan dunia. Kunci borgol akan mengikat persaudaraan dunia, beserta anjing dan hewan peliharaan Dewa.

  SARA itu lebih indah dari kepala presiden yang berkilau, kenapa manusia selalu mempermasalahkannya. Jiwa dan segalanya begitu mudah dihancurkan saat semua orang saling membenci keluarganya. Kuburan Ibu juga bukan lagi tempat untuk sembunyi, melainkan sebagai tempat harga diri yang terlupakan. Anak liar itu pantas dimakamkan bersama gitarnya, mencoba menjelajah dunia namun dengan jalan yang pengecut. Lambang Tanpa batas jangan sampai tergores luka, hanya karena sebuah perbedaan yang tak berguna.

   Sampah rasis jangan kau daur ulang, itu sisa makanan dari orang yang tak tau dosa. Rumah kaca harus kita pecahkan, atau dunia akan benar - benar runtuh oleh bayangan kelam yang menghadang. Genosida tidaklah pantas disebut peristiwa, itu hanya sebutan untuk manusia yang tak punya mata untuk melihat hati. Begitukah caramu membuang rasa marahmu bajingan, dengan mengikat anakmu pada sebuah tiang yang terbakar. Tak pantas akan terbuang, Kepercayaan sesat akan di luruskan, hingga tegak sampai matahari terbenam. Kita memang bodoh dan serba salah, jangan kita keluarkan rasa salah kita kepada orang lain yang tak berdosa. Inilah kekuatan jiwa yang terakhir, walau tanpa sadar namun hanya kita yang mampu memulai dan mengakhiri kesalahan di Dunia. Sampai kiamat itu datang, kita harus terus menantang Dunia, kita injak - injak kotoran yang tidak berguna. Agar kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, yaitu mati bersama kemuliaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

comment